Jakarta, 7 September 2026 – Gianni Infantino memastikan akan kembali mencalonkan diri sebagai Presiden FIFA dalam pemilihan yang dijadwalkan berlangsung pada Maret 2027. Kepastian tersebut disampaikan FIFA setelah muncul berbagai spekulasi mengenai masa depan Infantino menyusul polemik yang mengguncang organisasi sepak bola dunia dalam beberapa bulan terakhir. Pria asal Swiss itu tetap melanjutkan rencana mengejar periode kepemimpinan berikutnya meskipun menghadapi tekanan dari sejumlah konfederasi. Jika kembali terpilih, Infantino berpeluang memimpin FIFA hingga 2031. Namun, pemilihan kali ini diperkirakan tidak akan berjalan semudah beberapa periode sebelumnya. Presiden Concacaf Victor Montagliani mulai disebut sebagai figur yang paling berpotensi menantang Infantino. Meski demikian, hingga saat ini belum ada kandidat lain yang secara resmi mendaftarkan pencalonannya.
FIFA menegaskan keputusan Infantino untuk maju sebenarnya telah diumumkan sejak Kongres FIFA ke-76 yang berlangsung di Vancouver, Kanada, pada akhir April 2026. Ketika itu, Infantino secara langsung menyampaikan kepada 211 asosiasi anggota bahwa dirinya akan menjadi kandidat dalam pemilihan Presiden FIFA berikutnya. Pernyataan terbaru FIFA menegaskan rencana tersebut tidak berubah meskipun situasi politik sepak bola internasional berkembang cukup cepat. Infantino kini berusia 56 tahun dan telah memimpin FIFA sejak Februari 2016. Ia menggantikan Sepp Blatter setelah organisasi tersebut mengalami krisis besar akibat skandal korupsi dan tata kelola. Infantino kemudian mempertahankan posisinya melalui pemilihan berikutnya dan kembali mendapatkan mandat pada 2023. Pemilihan 2027 akan menentukan apakah kepemimpinannya dapat berlanjut untuk periode terakhir hingga 2031.
Tekanan terhadap Infantino meningkat setelah muncul rencana FIFA membuka sebagian kepentingan komersial kompetisinya kepada investor swasta. Proposal tersebut menjadi bagian dari proyek FIFA Forward Enterprise yang sempat dipersiapkan untuk membawa investasi eksternal dalam skala besar. Salah satu gagasan yang memicu perdebatan adalah kemungkinan penjualan sekitar 20 persen kepentingan dalam sejumlah kompetisi FIFA, termasuk Piala Dunia. Rencana itu memperoleh penolakan dari sejumlah konfederasi karena dianggap mempunyai konsekuensi besar terhadap kepemilikan dan pengelolaan aset sepak bola dunia. Proses pembahasannya juga mendapat kritik karena dinilai tidak memberikan waktu serta mekanisme konsultasi yang memadai kepada para pemangku kepentingan. Gelombang penolakan akhirnya membuat FIFA membatalkan rencana tersebut pada Juli 2026. Meski telah dibatalkan, polemik itu meninggalkan tekanan politik terhadap posisi Infantino.
UEFA menjadi salah satu pihak yang paling keras menentang rencana tersebut dan kemudian meningkatkan kritik terhadap kepemimpinan FIFA. Konfederasi Sepak Bola Asia atau AFC dan Concacaf juga menyampaikan keberatan terhadap proposal investasi yang dipersiapkan FIFA. Situasi tersebut menjadi penting karena tiga konfederasi itu mewakili jumlah asosiasi anggota yang besar dalam pemilihan Presiden FIFA. Concacaf bahkan menyatakan kekhawatiran terhadap proses pengambilan keputusan, tenggat waktu yang terlalu singkat, serta tidak adanya proses peninjauan yang dianggap memadai. Perbedaan pandangan tersebut membuat hubungan Infantino dengan sejumlah sekutu lamanya mengalami tekanan. Sejumlah federasi nasional Eropa juga mulai menarik dukungan yang sebelumnya diberikan kepada Infantino. Kondisi inilah yang membuka kemungkinan munculnya persaingan lebih ketat dalam pemilihan tahun depan.
Nama Victor Montagliani kemudian muncul sebagai calon pesaing paling potensial. Pria asal Kanada tersebut saat ini menjabat Presiden Concacaf sekaligus Wakil Presiden FIFA. Montagliani sebelumnya dikenal mempunyai hubungan yang cukup dekat dengan Infantino dan menjadi salah satu figur berpengaruh dalam struktur sepak bola internasional. Namun, hubungan politik keduanya mulai terlihat berbeda ketika Concacaf mengambil sikap berseberangan terhadap rencana investasi FIFA. Montagliani juga dikabarkan mulai melakukan langkah awal untuk mempertimbangkan pencalonan sebagai Presiden FIFA. Hingga 7 September 2026, ia belum secara resmi mendeklarasikan diri sebagai kandidat. Karena itu, status Montagliani masih sebatas calon potensial dan belum dapat disebut sebagai penantang resmi Infantino. Keputusan akhirnya akan menjadi salah satu perkembangan yang paling diperhatikan menjelang batas pendaftaran kandidat.
Posisi Montagliani cukup menarik karena Concacaf mempunyai 41 asosiasi anggota yang mencakup Amerika Utara, Amerika Tengah, dan Karibia. Pengalamannya dalam organisasi sepak bola internasional juga membuat namanya dianggap mempunyai kapasitas untuk membangun koalisi lintas konfederasi. Jika memutuskan maju, dukungan dari Concacaf dapat menjadi modal awal yang penting, meskipun tidak seluruh anggota otomatis mengikuti pilihan pemimpin konfederasi. Montagliani juga berpotensi mencari dukungan dari federasi Eropa dan Asia yang sedang berseberangan dengan Infantino. Namun, membangun mayoritas dari 211 anggota FIFA tetap menjadi tantangan besar. Pemilihan Presiden FIFA menggunakan prinsip satu asosiasi satu suara sehingga federasi kecil mempunyai bobot suara yang sama dengan negara-negara sepak bola besar. Kandidat membutuhkan mayoritas suara untuk memenangkan pemilihan.
Presiden UEFA Aleksander Ceferin sebelumnya juga sempat disebut sebagai salah satu figur yang berpotensi menghadapi Infantino. Namun, Ceferin telah menutup kemungkinan dirinya maju dalam pemilihan Presiden FIFA 2027. Keputusan tersebut membuat perhatian semakin tertuju kepada Montagliani dan beberapa tokoh lain yang berpotensi muncul sebelum pendaftaran ditutup. Presiden AFC Sheikh Salman bin Ebrahim Al Khalifa juga pernah disebut sebagai figur yang mempunyai pengalaman dan jaringan cukup luas untuk menjadi kandidat. Sheikh Salman sebelumnya berhadapan langsung dengan Infantino dalam pemilihan Presiden FIFA 2016. Meski demikian, belum terdapat pengumuman resmi bahwa dirinya akan kembali mengikuti pemilihan. Dengan situasi tersebut, Infantino masih menjadi satu-satunya kandidat yang secara terbuka memastikan akan maju.
Infantino pada sisi lain masih mempunyai basis dukungan yang cukup kuat untuk mempertahankan posisinya. Konfederasi Sepak Bola Afrika dan Conmebol yang menaungi negara-negara Amerika Selatan tetap menjadi wilayah penting bagi kekuatan politiknya. Arab Saudi yang akan menjadi tuan rumah Piala Dunia 2034 juga telah menunjukkan dukungan terhadap kepemimpinan Infantino. Selama satu dekade memimpin FIFA, Infantino banyak menekankan peningkatan distribusi dana pembangunan kepada asosiasi anggota melalui program FIFA Forward. Pendanaan tersebut mempunyai arti besar terutama bagi federasi dari negara yang tidak memiliki pendapatan komersial sebesar federasi Eropa. FIFA menyebut miliaran dolar telah dialokasikan untuk pengembangan sepak bola melalui program tersebut sejak Infantino mulai memimpin. Kebijakan distribusi dana pembangunan menjadi salah satu kekuatan utama Infantino dalam mempertahankan hubungan dengan federasi anggota.
Persaingan menuju pemilihan Presiden FIFA masih mempunyai waktu beberapa bulan untuk berkembang. Kandidat yang ingin mengikuti pemilihan harus menyerahkan pencalonannya paling lambat pada 18 November 2026. Setelah batas tersebut, peta persaingan akan menjadi lebih jelas karena FIFA dapat mengetahui siapa saja yang memenuhi persyaratan untuk maju. Pemilihan dijadwalkan berlangsung pada Kongres FIFA pada Maret 2027. Infantino akan berusaha mempertahankan dukungan dari asosiasi anggota di tengah kritik terhadap kepemimpinannya. Sementara itu, kelompok yang menginginkan perubahan harus menemukan kandidat yang mampu menyatukan suara dari beberapa konfederasi sekaligus. Montagliani menjadi salah satu nama yang paling diperhatikan karena mempunyai posisi strategis di FIFA sekaligus memimpin salah satu konfederasi terbesar.
Pemilihan Presiden FIFA 2027 berpotensi menjadi ujian politik terbesar bagi Infantino sejak pertama kali mengambil alih organisasi tersebut pada 2016. Berbeda dengan beberapa pemilihan sebelumnya ketika posisinya relatif kuat, kini terdapat perpecahan terbuka antara FIFA dan sejumlah konfederasi mengenai arah pengelolaan sepak bola dunia. Infantino telah memastikan tidak mengubah rencananya untuk kembali maju meskipun mendapat tekanan dan kritik. Victor Montagliani berada di posisi terdepan dalam daftar figur yang berpotensi memberikan perlawanan, tetapi pencalonannya masih harus menunggu deklarasi resmi. Dengan batas pendaftaran pada November, dinamika dukungan diperkirakan semakin intensif dalam beberapa bulan mendatang. Dukungan dari Afrika, Amerika Selatan, Asia, Eropa, serta kawasan Concacaf akan menentukan keseimbangan kekuatan menjelang kongres. Hasil pemilihan nantinya bukan hanya menentukan siapa yang memimpin FIFA hingga 2031, tetapi juga arah kebijakan organisasi sepak bola dunia dalam periode berikutnya.







