Jakarta, 25 Mei 2026 – Serangan militer Israel kembali menghantam wilayah Lebanon selatan dan menyebabkan dua orang tewas di Distrik Nabatieh, termasuk seorang tenaga kesehatan yang sedang menjalankan tugas kemanusiaan. Otoritas Lebanon menyebut serangan terjadi pada malam hari dan menyasar area yang berada tidak jauh dari permukiman warga serta fasilitas sipil. Ledakan besar dilaporkan terdengar di sejumlah titik dan memicu kepanikan masyarakat yang tinggal di kawasan tersebut. Ketegangan di perbatasan Israel-Lebanon kembali meningkat setelah dalam beberapa pekan terakhir terjadi saling serang lintas batas antara militer Israel dan kelompok bersenjata di Lebanon selatan. Situasi keamanan di wilayah tersebut pun semakin mengkhawatirkan seiring meningkatnya korban sipil.
Menurut laporan pihak berwenang Lebanon, salah satu korban tewas merupakan tenaga medis yang berada di lokasi untuk membantu proses evakuasi dan penanganan warga terdampak serangan sebelumnya. Selain korban meninggal, sejumlah orang juga mengalami luka-luka akibat ledakan yang merusak bangunan dan kendaraan di sekitar area serangan. Tim penyelamat dan ambulans langsung diterjunkan ke lokasi untuk mengevakuasi korban serta mencari kemungkinan adanya warga lain yang masih terjebak di bawah reruntuhan. Pemerintah Lebanon mengecam keras serangan tersebut dan menyebut tindakan itu sebagai pelanggaran terhadap hukum internasional serta ancaman serius terhadap keselamatan warga sipil. Hingga kini, aktivitas di sejumlah wilayah selatan Lebanon masih terganggu akibat ancaman serangan lanjutan.
Militer Israel menyatakan operasi dilakukan sebagai respons terhadap aktivitas kelompok bersenjata di wilayah Lebanon selatan yang disebut mengancam keamanan perbatasan Israel. Pihak Israel mengeklaim target serangan berkaitan dengan infrastruktur dan posisi militan yang selama ini aktif melakukan serangan lintas batas. Namun pemerintah Lebanon dan sejumlah organisasi kemanusiaan menilai serangan tersebut kembali menimbulkan dampak besar terhadap warga sipil dan fasilitas pelayanan publik. Dalam beberapa bulan terakhir, wilayah perbatasan memang terus menjadi titik panas akibat meningkatnya ketegangan antara Israel dan kelompok Hizbullah yang berbasis di Lebanon. Saling serang roket dan artileri membuat ribuan warga di kedua sisi perbatasan hidup dalam situasi penuh ketakutan.
Pengamat Timur Tengah menilai eskalasi konflik di Lebanon selatan berpotensi memperluas ketegangan kawasan yang sebelumnya sudah dipicu konflik berkepanjangan di Gaza. Keterlibatan kelompok bersenjata regional dan meningkatnya intensitas operasi militer dikhawatirkan dapat memicu konflik yang lebih besar di kawasan Timur Tengah. Selain ancaman keamanan, situasi tersebut juga memperburuk kondisi kemanusiaan di Lebanon yang masih menghadapi krisis ekonomi berkepanjangan. Serangan terhadap tenaga medis dan fasilitas kesehatan dinilai menjadi perhatian serius karena melanggar prinsip perlindungan kemanusiaan dalam konflik bersenjata. Komunitas internasional pun kembali menyerukan penghormatan terhadap hukum humaniter dan perlindungan warga sipil di wilayah konflik.
Hingga kini, pemerintah Lebanon terus melakukan koordinasi dengan lembaga internasional dan pasukan penjaga perdamaian PBB di wilayah perbatasan untuk memantau perkembangan situasi. Warga di sejumlah desa dekat perbatasan juga mulai mengungsi ke wilayah yang dianggap lebih aman akibat kekhawatiran terhadap serangan susulan. Organisasi kemanusiaan memperingatkan bahwa konflik yang terus berlanjut dapat meningkatkan jumlah korban sipil dan memperparah kondisi sosial masyarakat di kawasan tersebut. Di tengah situasi yang semakin tegang, seruan penghentian kekerasan dan pembukaan jalur diplomasi kembali disampaikan berbagai negara. Namun hingga saat ini, belum terlihat tanda-tanda penurunan eskalasi di perbatasan Israel dan Lebanon selatan.






