Bandung, 5 September 2026 – Suara dentuman keras disertai gemuruh berulang mengejutkan warga di sejumlah wilayah Bandung Raya sejak Jumat malam, 4 September, hingga Sabtu dini hari. Suara tersebut dilaporkan mulai terdengar sekitar pukul 23.30 WIB dan terus muncul hingga mendekati pukul 02.00 WIB, bahkan sebagian warga masih mendengarnya setelah waktu tersebut. Kekuatan suara dalam beberapa kejadian cukup besar hingga membuat kaca jendela, pintu, dan bagian rumah bergetar. Sejumlah warga yang sedang beristirahat terbangun karena dentuman terdengar menyerupai suara meriam atau ledakan dari kejauhan. Fenomena itu kemudian ramai diperbincangkan karena sumber suara tidak terlihat secara langsung. Laporan serupa muncul hampir bersamaan dari berbagai wilayah di Bandung dan daerah sekitarnya.
Salah seorang warga Kutawaringin, Kabupaten Bandung, Daeng Rosanda, mengaku pertama kali mendengar suara keras sekitar pukul 23.50 WIB. Pada awalnya ia menduga suara tersebut berasal dari dentuman bass kegiatan di sekitar Stadion Si Jalak Harupat yang lokasinya tidak terlalu jauh dari kediamannya. Namun, suara yang terdengar kemudian berubah menjadi dentuman lebih keras dan berulang. Sekitar pukul 02.30 WIB, salah satu dentuman bahkan cukup kuat hingga membangunkan orang-orang yang berada di dalam rumah. Kaca jendela juga dilaporkan ikut bergetar ketika suara tersebut muncul. Dentuman perlahan mulai mereda menjelang waktu Subuh ketika aktivitas masyarakat di sekitar permukiman mulai meningkat.
Laporan mengenai fenomena serupa tidak hanya datang dari Kabupaten Bandung. Warga Kota Bandung, Kabupaten Bandung Barat, Cimahi, Sumedang, Purwakarta, hingga Cianjur juga mengaku mendengar suara yang hampir sama. Sebagian menggambarkannya seperti suara pukulan keras pada dinding berukuran besar, sedangkan warga lainnya menyebut suara tersebut menyerupai dentuman bass atau meriam dari kejauhan. Beberapa rekaman yang beredar memperlihatkan kaca dan pintu rumah mengalami getaran tipis ketika suara terdengar. Luasnya wilayah yang melaporkan fenomena tersebut membuat masyarakat semakin mempertanyakan sumbernya. Spekulasi kemudian berkembang di media sosial mulai dari aktivitas lokal, latihan militer, hingga fenomena alam.
Perhatian masyarakat selanjutnya mengarah kepada Gunung Anak Krakatau karena gunung api di Selat Sunda tersebut mengalami erupsi dalam rentang waktu hampir bersamaan. Aktivitas erupsi menerus Anak Krakatau terpantau mulai Jumat sekitar pukul 23.07 WIB dan berlangsung hingga Sabtu pagi. Pengamatan menunjukkan adanya semburan material pijar serta suara gemuruh dari kawasan gunung. Kesamaan waktu tersebut membuat sebagian masyarakat menduga dentuman yang terdengar di Bandung berasal dari aktivitas vulkanik Anak Krakatau. Namun, kesamaan waktu belum dapat digunakan sebagai bukti bahwa kedua kejadian mempunyai hubungan langsung. Penentuan sumber suara membutuhkan pencocokan data vulkanik, seismik, akustik, dan kondisi atmosfer.
BMKG kemudian melakukan pemeriksaan terhadap jaringan pemantauan gempa di wilayah Jawa Barat. Berdasarkan analisis awal, tidak terdapat rekaman aktivitas gempa yang bertepatan dengan waktu munculnya dentuman di Bandung Raya. Aktivitas pada Sesar Lembang, Sesar Cimandiri, maupun sejumlah sesar aktif lainnya juga tidak menunjukkan kejadian signifikan yang dapat menjelaskan suara tersebut. Kondisi itu membuat kemungkinan gempa tektonik sebagai sumber dentuman belum mendapatkan dukungan dari data instrumen. BMKG juga memeriksa faktor meteorologi dan kondisi atmosfer untuk mencari kemungkinan penyebab lain. Penyelidikan masih diperlukan karena suara yang terdengar masyarakat merupakan fenomena yang dapat dipengaruhi berbagai faktor.
Sejumlah fenomena geofisika sebenarnya dapat menghasilkan suara dentuman tanpa disertai gempa besar yang dirasakan masyarakat. Rangkaian gempa sangat kecil, aktivitas runtuhan, maupun proses tertentu di kawasan karst dapat menghasilkan suara dalam kondisi tertentu. Namun, BMKG belum menemukan rekaman yang cukup untuk mengaitkan salah satu mekanisme tersebut dengan kejadian di Bandung. Karena itu, penyebab suara tidak dapat ditetapkan hanya berdasarkan kesaksian masyarakat. Data waktu dan lokasi dari warga tetap penting karena dapat dibandingkan dengan catatan instrumen. Semakin banyak laporan yang mempunyai waktu akurat, semakin besar peluang peneliti merekonstruksi pola perambatan suara tersebut.
Pakar geologi Institut Teknologi Bandung juga menilai kemungkinan hubungan dengan Anak Krakatau belum dapat disimpulkan tanpa kajian lebih mendalam. Salah satu mekanisme yang dapat dipertimbangkan adalah fenomena acoustic shadow zone atau zona bayangan suara. Gelombang suara di atmosfer tidak selalu bergerak lurus karena perubahan suhu, kecepatan angin, dan arah angin pada berbagai ketinggian dapat membelokkan jalur perambatannya. Dalam keadaan tertentu, suara justru tidak terdengar di kawasan tertentu yang lebih dekat dengan sumber, tetapi kembali terdengar di wilayah yang lebih jauh. Turbulensi atmosfer juga dapat menyebabkan sebagian energi suara tersebar kembali menuju permukaan. Mekanisme tersebut menjadi salah satu hipotesis yang perlu diuji menggunakan data atmosfer dan sinyal suara.
Badan Geologi sebelumnya juga menjelaskan energi akustik dari erupsi gunung api dalam kondisi tertentu dapat merambat hingga jarak ratusan kilometer. Pelepasan gas secara cepat dan pergerakan material berkecepatan tinggi di saluran gunung dapat menghasilkan gelombang tekanan yang kemudian bergerak melalui atmosfer. Namun, kemampuan suara menjangkau wilayah tertentu sangat bergantung pada kekuatan sumber dan kondisi atmosfer sepanjang jalur perambatannya. Karena itu, fakta bahwa Anak Krakatau mengalami erupsi pada waktu hampir bersamaan belum membuktikan dentuman Bandung berasal dari gunung tersebut. Analisis sinyal dari berbagai stasiun pemantauan diperlukan untuk melihat apakah terdapat pola waktu yang sesuai. Kajian lintas lembaga menjadi penting agar sumber fenomena dapat dijelaskan secara ilmiah.
Masyarakat diminta tidak langsung mempercayai berbagai spekulasi yang berkembang sebelum terdapat hasil analisis lebih lengkap. Tidak ada laporan kerusakan bangunan maupun korban akibat dentuman yang terdengar di Bandung Raya. Getaran pada kaca, pintu, atau bagian rumah dapat terjadi akibat gelombang tekanan suara tanpa harus disertai pergerakan tanah seperti pada gempa bumi. Warga yang kembali mendengar fenomena serupa dapat mencatat waktu kejadian secara tepat untuk membantu proses analisis. Rekaman suara atau video yang memiliki informasi waktu dan lokasi juga dapat menjadi data tambahan apabila diperlukan oleh pihak terkait. Masyarakat tetap diminta mengikuti informasi dari lembaga resmi mengenai perkembangan penyelidikan.
Fenomena dentuman Bandung kini masih menjadi perhatian karena terjadi dalam wilayah yang luas dan bertepatan dengan meningkatnya aktivitas Anak Krakatau. Data awal menunjukkan tidak terdapat aktivitas gempa signifikan di Bandung Raya ketika suara tersebut terdengar, sementara hubungan dengan erupsi gunung api masih memerlukan pembuktian lebih lanjut. Kemungkinan pengaruh kondisi atmosfer terhadap perambatan gelombang suara juga menjadi bagian yang perlu diteliti. Penggabungan data BMKG, Badan Geologi, pengamatan atmosfer, dan kesaksian warga diharapkan dapat mempersempit kemungkinan sumber dentuman. Hingga penyebabnya dapat dipastikan, berbagai dugaan mengenai asal suara tetap harus ditempatkan sebagai hipotesis. Kajian lanjutan diperlukan untuk menjelaskan mengapa dentuman dan gemuruh tersebut dapat terdengar begitu luas hingga membuat kaca serta pintu rumah warga bergetar.







