Jakarta, 10 September 2026 – Keluarga Thalita Latief berusaha terus berada di sisi Riki Isman Latief selama menjalani perawatan hingga mengembuskan napas terakhir pada usia 67 tahun. Sang ayah diketahui telah lama berjuang menghadapi penyakit jantung dan sempat menjalani perawatan intensif di Padang, Sumatera Barat. Dalam masa-masa tersebut, dukungan keluarga menjadi bagian penting yang menemani perjuangannya. Thalita mengungkapkan keluarga berusaha memenuhi keinginan sang ayah sekaligus memberikan semangat selama kondisi kesehatannya mengalami naik turun. Kehadiran anak dan cucu menjadi sumber kebahagiaan tersendiri bagi Riki di tengah proses pengobatan yang panjang.
Thalita mengatakan ayahnya memang telah cukup lama mempunyai masalah pada jantung. Kondisi tersebut kemudian mengharuskannya menjalani operasi bypass Bentall, prosedur yang tergolong kompleks dalam penanganan penyakit jantung. Keluarga akhirnya memilih menjalani proses pengobatan di Padang karena tim dokter yang menangani Riki berada di kota tersebut. Keputusan itu juga sesuai dengan keinginan Riki sendiri. Thalita dan keluarga memilih mendukung pilihan tersebut agar sang ayah merasa nyaman selama menjalani pengobatan.
Perawatan di Padang berlangsung sekitar dua bulan. Selama periode tersebut, kondisi Riki sempat mengalami perubahan dari waktu ke waktu sebelum akhirnya menurun dalam sekitar dua pekan terakhir. Ia kemudian harus mendapatkan perawatan lebih intensif di ruang ICU. Keluarga terus memantau perkembangannya dan berusaha mendampingi selama masa kritis tersebut. Thalita menyebut kondisi ayahnya sempat naik turun sebelum akhirnya tidak dapat bertahan.
Situasi itu membuat Thalita harus membagi waktu antara Jakarta dan Padang. Pada awal masa perawatan, ia masih bolak-balik karena mempunyai tanggung jawab terhadap anaknya yang tetap harus menjalani kegiatan sekolah. Kondisi tersebut membuat Thalita tidak memungkinkan untuk langsung meninggalkan Jakarta dalam waktu panjang. Meski demikian, komunikasi dengan keluarga dan tim yang mendampingi ayahnya terus dilakukan. Ketika kondisi Riki semakin kritis, Thalita akhirnya memutuskan berada lebih lama di Padang.
Sekitar dua setengah minggu terakhir sebelum sang ayah meninggal, Thalita lebih banyak berada di Padang untuk memberikan pendampingan secara langsung. Masa tersebut menjadi periode yang sangat berat bagi keluarga karena kondisi kesehatan Riki membutuhkan perhatian intensif. Thalita berusaha berada sedekat mungkin dengan ayahnya sambil tetap menjalankan tanggung jawab sebagai seorang ibu. Keluarga lainnya juga bergantian memberikan dukungan sehingga Riki tidak menjalani masa perawatan seorang diri. Kebersamaan tersebut kemudian menjadi kenangan yang sangat berarti setelah kepergiannya.
Kehadiran cucu juga mempunyai arti tersendiri bagi Riki selama menghadapi penyakit. Bagi keluarga, interaksi dengan cucu dapat menghadirkan suasana berbeda di tengah proses pengobatan yang melelahkan. Momen sederhana bersama keluarga menjadi sumber semangat ketika kondisi fisiknya tidak lagi seperti sebelumnya. Thalita melihat hubungan ayahnya dengan cucu sebagai bagian yang memberikan kebahagiaan pada masa-masa terakhir kehidupannya. Dukungan emosional tersebut terus diberikan bersamaan dengan penanganan medis yang dijalani.
Thalita sendiri harus menghadapi situasi emosional karena berada di antara perannya sebagai anak dan ibu. Di satu sisi, ia ingin terus mendampingi ayahnya yang sedang menjalani perawatan intensif. Di sisi lain, anaknya mempunyai aktivitas sekolah yang tidak dapat begitu saja ditinggalkan. Karena itulah perjalanan Jakarta-Padang beberapa kali harus dilakukan sebelum akhirnya ia memilih menetap di Padang ketika kondisi ayahnya memburuk. Keputusan tersebut membuat Thalita dapat berada lebih dekat dengan keluarga pada masa-masa terakhir Riki.
Riki akhirnya meninggal dunia setelah kondisi kesehatannya terus menurun. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi Thalita dan keluarga yang telah mengikuti perjalanan pengobatan selama beberapa bulan terakhir. Setelah seluruh proses di Padang selesai, jenazah kemudian dibawa untuk dimakamkan di Jakarta. Keluarga memilih Tempat Pemakaman Umum Jeruk Purut, Cilandak, Jakarta Selatan sebagai tempat peristirahatan terakhir. Prosesi pemakaman berlangsung pada Kamis pagi dengan dihadiri keluarga serta kerabat dekat.
Iring-iringan mobil jenazah tiba di kawasan pemakaman sekitar pukul 10.00 WIB. Suasana haru langsung terasa ketika keranda diturunkan dan dibawa menuju liang lahat. Thalita yang mengenakan pakaian serba hitam terlihat berusaha mengikuti seluruh rangkaian pemakaman meskipun kesedihannya tidak dapat disembunyikan. Air matanya beberapa kali terlihat ketika memandang tempat peristirahatan terakhir sang ayah. Keluarga dan kerabat berada di sekelilingnya untuk memberikan dukungan selama prosesi berlangsung.
Aktor Edo Borne juga terlihat hadir dalam prosesi tersebut. Suami Hesti Purwadinata itu bahkan turun langsung ke liang lahat untuk membantu membaringkan jenazah Riki. Ia kemudian membantu merapikan papan penutup sebelum proses pemakaman dilanjutkan. Suasana emosional terlihat dari keluarga maupun para pelayat yang mengikuti prosesi dengan khusyuk. Setelah jenazah selesai dimakamkan, doa bersama dipanjatkan di sisi pusara.
Bagi Thalita, kehilangan sang ayah terjadi setelah keluarga melewati periode panjang yang dipenuhi harapan terhadap proses pengobatan. Keputusan menjalani perawatan di Padang telah diambil dengan mempertimbangkan keinginan Riki serta keberadaan tim dokter yang dipercaya menanganinya. Keluarga terus mendukung setiap tahapan pengobatan tersebut sampai kondisinya memasuki fase kritis. Meski hasil akhirnya tidak seperti yang diharapkan, kesempatan mendampingi Riki menjadi bagian penting bagi keluarga. Mereka dapat berada di dekatnya ketika kondisi kesehatan semakin menurun.
Kebersamaan anak dan cucu pada masa perawatan juga meninggalkan kenangan tersendiri. Kehadiran keluarga tidak dapat menggantikan tindakan medis, tetapi dukungan emosional mempunyai arti besar bagi seseorang yang menjalani proses pengobatan panjang. Bagi Riki, perhatian dari orang-orang terdekat menjadi bagian dari hari-hari terakhirnya. Thalita pun berusaha memastikan sang ayah tetap mendapatkan dukungan tersebut meskipun harus membagi waktu dengan berbagai tanggung jawab di Jakarta. Perjalanan bolak-balik yang dilakukannya menjadi bagian dari usaha untuk tetap hadir bagi ayahnya.
Kepergian Riki Isman Latief kini meninggalkan ruang kehilangan besar bagi Thalita Latief dan keluarganya. Setelah sekitar dua bulan menjalani perawatan dan menghadapi penurunan kondisi dalam dua minggu terakhir, Riki akhirnya menyelesaikan perjuangannya melawan penyakit jantung. Keluarga telah mengantarkannya ke tempat peristirahatan terakhir dengan doa dan kebersamaan. Bagi Thalita, kenangan tentang perjuangan sang ayah serta momen bersama anak dan cucu akan menjadi bagian yang terus dikenang. Dukungan keluarga yang hadir hingga masa terakhir menjadi penutup perjalanan Riki bersama orang-orang terdekatnya.





