Jakarta, 27 September 2026 –
PT Saka Energi Indonesia (SAKA) mulai mengebor sumur eksplorasi Saka Manpatu-1 (SM-1) di Wilayah Kerja (WK) Pekawai, Kalimantan Timur, untuk menguji potensi sumber daya minyak dan gas bumi baru. Penajakan sumur dilakukan pada 22 September 2026 setelah perusahaan menyelesaikan serangkaian pemeriksaan kesiapan operasi. Kegiatan tersebut dijalankan melalui PT Saka Energi Sepinggan sebagai operator WK Pekawai. Pengeboran menjadi bagian dari strategi eksplorasi SAKA untuk mendukung penambahan sumber daya migas nasional.
Direktur Eksplorasi dan Pengembangan SAKA Fuji Koesumadewi mengatakan pengeboran SM-1 ditujukan untuk menguji potensi hidrokarbon yang sebelumnya telah diidentifikasi melalui berbagai studi geologi dan geofisika. Struktur SM-1 diperkirakan memiliki volume hidrokarbon in-place P50 sebesar 109 BCF gas dan 22 MMBOE minyak atau kondensat. Angka tersebut masih merupakan estimasi potensi bawah permukaan yang perlu dikonfirmasi melalui kegiatan pengeboran dan pengujian sumur. Hasil pengeboran nantinya akan memberikan informasi lebih lengkap mengenai keberadaan serta karakteristik hidrokarbon di area tersebut.
Sumur SM-1 ditargetkan mencapai kedalaman akhir sekitar 12.400 kaki MD atau measured depth. Setelah mencapai zona yang dituju, perusahaan merencanakan well-testing pada dua zona target untuk memperoleh data lebih lanjut. SAKA menggandeng konsorsium PT Pertamina Drilling Services Indonesia dan PT ADES Drilling Indonesia dengan menggunakan Jack-Up Rig Soehanah. Sejumlah persiapan telah dilakukan mulai dari kesiapan rig, integrasi peralatan, pengujian sistem hingga kesiapan personel.
Pengeboran tersebut juga menggunakan teknologi Casing While Drilling (CWD). Teknologi ini memungkinkan proses pengeboran dan pemasangan casing dilakukan dalam satu rangkaian sehingga diharapkan dapat meningkatkan efektivitas dan efisiensi operasi. SAKA sebelumnya telah menerapkan teknologi serupa dalam pengeboran sumur SID-5 di WK Pangkah. Penerapan CWD pada SM-1 sekaligus disesuaikan dengan karakteristik bawah permukaan yang dihadapi selama kegiatan pengeboran.
WK Pekawai sendiri telah dikelola SAKA melalui PT Saka Energi Sepinggan sejak perusahaan dipercaya pemerintah melalui SKK Migas sebagai operator pada 16 Mei 2018. Wilayah tersebut mencakup area darat dan lepas pantai di Kalimantan Timur. Studi geologi dan geofisika sebelumnya mengidentifikasi dua prospek utama, yakni Saka Manpatu dan Hanna di area lepas pantai. Sejak 2022, SAKA juga bersinergi dengan Pertamina Hulu Mahakam untuk mematangkan prospek yang telah teridentifikasi tersebut.
Prospek SM-1 mendapat perhatian karena karakteristik geologinya berkesinambungan dengan Lapangan Manpatu yang dikelola Pertamina Hulu Mahakam dan telah mempunyai Plan of Development. Sekitar 10 hingga 24 persen struktur Lapangan Manpatu berada di dalam wilayah WK Pekawai. Keberadaan hidrokarbon yang telah teridentifikasi pada Lapangan Manpatu menjadi salah satu petunjuk geologi yang mendukung prospek eksplorasi SM-1. Namun, potensi komersial di WK Pekawai tetap harus dibuktikan melalui hasil pengeboran, pengujian, dan evaluasi lanjutan.
SAKA menyatakan seluruh rangkaian pengeboran SM-1 dilakukan dengan mengutamakan aspek keselamatan, keamanan, keandalan operasi, dan perlindungan lingkungan. Apabila hasil pengeboran mengonfirmasi keberadaan hidrokarbon sesuai ekspektasi, data SM-1 akan menjadi dasar penting untuk menentukan tahapan eksplorasi maupun kemungkinan pengembangan berikutnya. Perusahaan juga melihat adanya peluang pengembangan melalui skema unitisasi dengan Pertamina Hulu Mahakam apabila kondisi teknis dan komersial mendukung. Pengeboran SM-1 dengan demikian menjadi tahapan penting untuk membuktikan seberapa besar potensi WK Pekawai dalam memberikan tambahan sumber daya migas bagi Indonesia.





