Dompu, 1 September 2026 – Aktivitas pendakian Gunung Tambora di kawasan Taman Nasional Tambora, Nusa Tenggara Barat, resmi ditutup sementara mulai Selasa, 1 September 2026. Kebijakan tersebut diambil karena risiko kebakaran hutan dan lahan atau karhutla meningkat seiring berlangsungnya puncak musim kemarau. Balai Taman Nasional Tambora menilai pembatasan aktivitas pendakian diperlukan untuk mengurangi potensi munculnya sumber api di kawasan konservasi. Selain berkaitan dengan keselamatan pengunjung, keputusan tersebut juga ditujukan untuk memberikan ruang bagi petugas melakukan pengawasan dan penanganan apabila ditemukan kebakaran di dalam kawasan taman nasional. Penutupan ini berlaku hingga kondisi kawasan dinyatakan kembali aman dari ancaman karhutla berdasarkan hasil evaluasi di lapangan.
Kepala Balai Taman Nasional Tambora Abdul Azis Bakry menjelaskan bahwa keputusan penutupan merupakan tindak lanjut dari kebijakan pemerintah mengenai pengaturan kegiatan pendakian di kawasan konservasi selama periode dengan tingkat kerawanan kebakaran tinggi. Kebijakan tersebut mulai berlaku pada 1 September 2026 dan diterapkan sebagai langkah pencegahan sebelum potensi kebakaran berkembang menjadi kondisi yang lebih luas. Pemerintah menilai aktivitas manusia di jalur pendakian dapat meningkatkan risiko munculnya api, terutama ketika kondisi vegetasi dan material alami di kawasan berada dalam keadaan kering. Oleh karena itu, pengurangan aktivitas wisata di kawasan yang memiliki tingkat kerawanan tinggi dipandang sebagai salah satu bentuk mitigasi. Langkah tersebut juga memungkinkan petugas lebih leluasa melakukan pemantauan terhadap kondisi kawasan tanpa adanya kepadatan aktivitas pendaki.
Pertimbangan lain dalam penutupan tersebut adalah ditemukannya sejumlah titik api di beberapa lokasi dalam kawasan Taman Nasional Tambora. Titik api tersebut terpantau melalui sistem pemantauan kebakaran hutan dan lahan serta diperkuat dengan hasil pengamatan petugas di lapangan. Keberadaan titik api menjadi perhatian karena kondisi cuaca yang kering dapat membuat api lebih mudah menyebar apabila tidak segera ditangani. Situasi tersebut membuat pengelola kawasan harus mengambil langkah pencegahan dengan mengurangi aktivitas masyarakat di jalur pendakian. Dengan ditutupnya jalur, petugas dapat lebih fokus melakukan pemantauan dan memastikan potensi kebakaran dapat ditangani sedini mungkin sebelum menjalar ke wilayah yang lebih luas.
Penutupan jalur pendakian tidak berarti seluruh aktivitas di kawasan Taman Nasional Tambora dihentikan. Petugas tetap melakukan patroli untuk memantau kondisi hutan, terutama pada area yang memiliki tingkat kerawanan kebakaran tinggi. Kegiatan mitigasi bencana dan penelitian juga tetap diperbolehkan dengan memperhatikan kondisi serta ketentuan keselamatan yang berlaku. Sejumlah objek wisata yang tidak berkaitan dengan aktivitas pendakian juga masih dapat dikunjungi masyarakat selama kondisinya dinilai aman. Salah satu kawasan wisata yang tetap dapat menjadi alternatif adalah Air Terjun Oi Marai, sehingga aktivitas wisata tidak sepenuhnya berhenti selama kebijakan penutupan jalur pendakian diberlakukan.
Keputusan tersebut turut menjadi perhatian bagi masyarakat yang menggantungkan kegiatan ekonominya dari aktivitas wisata Gunung Tambora. Pemandu pendakian, porter, pengelola jasa wisata, serta pelaku usaha di sekitar kawasan selama ini memperoleh manfaat dari kedatangan wisatawan dan pendaki. Penutupan jalur tentu dapat mengurangi jumlah pengunjung yang datang dengan tujuan melakukan pendakian dalam waktu dekat. Namun, pengelola kawasan mendorong pelaku usaha wisata untuk mengembangkan layanan alternatif yang tidak bergantung pada kegiatan mendaki gunung. Pengalihan wisatawan menuju objek wisata nonpendakian diharapkan dapat membantu mempertahankan aktivitas ekonomi masyarakat selama pembatasan berlangsung.
Kebijakan tersebut juga menjadi bagian dari upaya menjaga keselamatan para pendaki. Kondisi jalur yang kering dan meningkatnya potensi kebakaran dapat menempatkan pengunjung dalam situasi berbahaya apabila terjadi kebakaran ketika mereka berada jauh dari titik evakuasi. Pendaki juga dapat mengalami kesulitan keluar dari kawasan apabila jalur yang digunakan terhalang asap atau api yang bergerak mengikuti arah angin. Risiko tersebut menjadi lebih besar apabila kebakaran terjadi secara tiba-tiba di wilayah yang memiliki vegetasi kering dan sulit dijangkau kendaraan. Karena itu, penutupan jalur dipandang sebagai langkah antisipatif untuk mencegah wisatawan berada di dalam kawasan ketika kondisi belum sepenuhnya aman.
Gunung Tambora sendiri merupakan salah satu kawasan alam penting di Pulau Sumbawa yang secara administratif berada di wilayah Kabupaten Dompu dan Kabupaten Bima. Kawasan tersebut memiliki nilai ekologis sekaligus menjadi salah satu tujuan wisata alam yang banyak menarik perhatian pendaki dari berbagai daerah. Gunung Tambora juga dikenal karena sejarah letusannya yang sangat besar dan membentuk karakter bentang alam yang menjadi daya tarik tersendiri. Keberadaan ekosistem hutan di kawasan taman nasional membuat upaya perlindungan terhadap wilayah tersebut menjadi penting, terutama ketika kondisi cuaca meningkatkan potensi terjadinya kebakaran. Kerusakan akibat kebakaran tidak hanya mengancam vegetasi, tetapi juga dapat memengaruhi habitat satwa dan keseimbangan ekosistem dalam jangka panjang.
Penutupan kali ini berlangsung tidak lama setelah kawasan Taman Nasional Tambora digunakan untuk kegiatan Tambora Jungle Run 2026 pada akhir Agustus. Kegiatan tersebut diikuti ratusan peserta dari berbagai daerah dan memanfaatkan sebagian kawasan taman nasional sebagai lokasi kegiatan olahraga wisata. Setelah kegiatan tersebut selesai, pengelola kemudian menerapkan penutupan aktivitas pendakian mulai 1 September sesuai dengan kebijakan pengelolaan risiko karhutla. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pengaturan aktivitas di kawasan konservasi dapat berubah mengikuti perkembangan cuaca dan tingkat kerawanan kebakaran. Pengelola harus terus menyesuaikan kegiatan wisata dengan kondisi lapangan agar keselamatan pengunjung dan kelestarian kawasan tetap menjadi pertimbangan utama.
Sementara itu, sistem pemesanan tiket pendakian Gunung Tambora saat ini belum menggunakan mekanisme pemesanan daring secara penuh. Kondisi tersebut membuat kebijakan penutupan tidak disertai mekanisme pengembalian tiket secara daring seperti yang dapat diterapkan pada destinasi yang telah menggunakan sistem reservasi digital. Masyarakat yang telah memiliki rencana untuk mendaki diminta memperhatikan informasi terbaru mengenai status jalur sebelum melakukan perjalanan ke kawasan Tambora. Pengunjung juga perlu memahami bahwa perubahan status pendakian dapat dilakukan berdasarkan kondisi keselamatan dan perkembangan risiko kebakaran. Kepatuhan terhadap penutupan menjadi bagian penting untuk membantu petugas mengendalikan situasi di kawasan konservasi.
Bagi petugas di lapangan, masa penutupan juga menjadi kesempatan untuk memperkuat patroli dan pemantauan kawasan. Pemeriksaan dapat dilakukan pada jalur-jalur yang sebelumnya ramai digunakan pendaki serta area yang memiliki indikasi peningkatan risiko kebakaran. Pengawasan diperlukan untuk mengetahui perkembangan titik api dan memastikan tidak ada aktivitas masyarakat yang berpotensi memicu kebakaran. Selain pemantauan langsung, kondisi kawasan juga dapat dipantau menggunakan sistem informasi yang membantu mendeteksi indikasi kebakaran. Respons cepat menjadi sangat penting karena api yang muncul di kawasan dengan kondisi kering dapat berkembang dengan cepat apabila tidak segera dikendalikan.
Pemerintah juga menerapkan pendekatan berbasis risiko dalam menentukan status pendakian di kawasan konservasi. Artinya, tidak semua gunung atau jalur pendakian harus mendapatkan perlakuan yang sama karena tingkat kerawanan setiap kawasan dapat berbeda. Faktor cuaca, kondisi vegetasi, ketersediaan bahan bakar alami, tingkat kerentanan kawasan, serta kemampuan petugas melakukan pengendalian menjadi bagian dari pertimbangan. Gunung Tambora termasuk kawasan yang masuk dalam kategori dengan risiko tinggi sehingga aktivitas pendakian untuk sementara dihentikan. Pendekatan tersebut diharapkan dapat membuat kebijakan pengelolaan wisata lebih terukur sekaligus mengurangi kemungkinan terjadinya kebakaran akibat aktivitas manusia.
Penutupan juga diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menjaga kawasan konservasi selama musim kemarau. Api kecil yang berasal dari aktivitas manusia dapat berkembang menjadi kebakaran besar apabila kondisi lingkungan sangat kering dan angin cukup kuat. Karena itu, masyarakat yang berada di sekitar taman nasional maupun wisatawan yang mengunjungi kawasan nonpendakian tetap perlu memperhatikan ketentuan yang ditetapkan pengelola. Larangan menyalakan api sembarangan, membuang benda yang berpotensi menjadi sumber api, serta memasuki kawasan yang telah ditutup merupakan bagian dari upaya pencegahan. Peran masyarakat menjadi penting karena petugas tidak dapat melakukan pengawasan secara terus-menerus di seluruh bagian kawasan yang luas.
Hingga saat ini belum ditetapkan tanggal pasti pembukaan kembali jalur pendakian Gunung Tambora. Aktivitas pendakian baru akan dibuka apabila hasil evaluasi menunjukkan bahwa kondisi kawasan telah cukup aman dari ancaman kebakaran. Pengelola akan mempertimbangkan perkembangan cuaca, tingkat kekeringan kawasan, keberadaan titik api, serta kemampuan pengendalian di lapangan sebelum mengambil keputusan berikutnya. Selama penutupan berlangsung, masyarakat diminta tidak memaksakan diri memasuki jalur pendakian yang telah dinyatakan tertutup. Keputusan tersebut diperlukan agar upaya pencegahan karhutla dapat berjalan maksimal tanpa menempatkan pendaki maupun petugas dalam risiko yang tidak perlu.
Penutupan sementara jalur pendakian Gunung Tambora pada akhirnya menjadi langkah pencegahan yang diarahkan untuk melindungi keselamatan pengunjung sekaligus menjaga keberlanjutan ekosistem taman nasional. Meningkatnya risiko karhutla pada puncak musim kemarau membuat pengelola harus membatasi aktivitas manusia di kawasan yang memiliki kerawanan tinggi. Di sisi lain, kegiatan patroli, mitigasi, penelitian, dan wisata nonpendakian tetap dapat berlangsung dengan memperhatikan kondisi keamanan. Pembukaan kembali jalur akan ditentukan setelah evaluasi menunjukkan bahwa ancaman kebakaran telah berada pada tingkat yang dapat dikendalikan. Selama masa penutupan, koordinasi antara petugas, masyarakat, pelaku usaha wisata, dan calon pengunjung menjadi penting agar kawasan Tambora tetap terlindungi hingga kondisi memungkinkan aktivitas pendakian kembali dilakukan.





